Pendidikan di Indonesia masih harus berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu cita-cita bangsa Indonesia yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya aspek-aspek dalam pendidikan yang harus dibenahi bersama oleh seluruh pihak. Salah satu aspek mendasar tersebut adalah pemahaman masyarakat tentang pendidikan secara aplikatif. Banyak masyarakat yang masih keliru dengan perannya masing-masing dalam sistem pendidikan di Indonesia. Selain itu, banyaknya pelajaran yang dipelajari murid di sekolah tidak berbanding lurus dengan penguasaan siswa terhadap pelajaran tersebut dan masih banyak orang yang lebih menghargai nilai yang diperoleh di sekolah daripada proses pembelajarannya.
Setiap orang memiliki perannya masing-masing dalam suatu sistem pendidikan, khususnya mereka yang menjadi orang tua. Orang tua memiliki peran penting dalam pendidikan anak di rumah maupun di sekolah, sehingga menjalin hubungan kooperatif yang efektif dengan pihak sekolah mutlak diperlukan. Namun kenyataannya, beberapa orang tua masih tidak ingin ambil bagian dalam pendidikan anaknya. Mereka cenderung menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya ke pihak sekolah. Jika ada masalah menyangkut anaknya, mereka tidak segan untuk melontarkan keluhan tentang anak mereka dan menyalahkan pihak sekolah karena pihak sekolah tidak mampu mendidik anak mereka dengan baik. Beberapa teman saya yang berprofesi sebagai guru pernah menceritakan kisahnya tentang orang tua yang menyalahkan pihak sekolah sepenuhnya karena anaknya membuat masalah di sekolah maupun di rumah. Hal ini tidak seharusnya terjadi jika para orang tua tersebut benar-benar memahami peran mereka dalam sistem pendidikan. Pendidikan di Indonesia dapat berjalan dengan baik jika seluruh pihak, khususnya orang tua, mengambil perannya masing-masing dan bekerjasama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar sampai di bangku perkuliahan, kita banyak mendapatkan pelajaran di sekolah. Mulai dari Matematika, Bahasa, Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, dan lain sebagainya. Jika saat ini Kamu diminta untuk menjelaskan kembali apa saja yang telah kamu pelajari di sekolah, apakah kamu menjelaskannya dengan mudah dan jelas? Saya rasa tidak. Mengapa demikian? Menurut saya, hal ini terjadi karena kita dijejali banyak materi pelajaran sehingga kita kesulitan untuk mengingat kembali materi pelajaran tersebut. Selain itu, kita seolah tidak benar-benar mengetahui manfaat dari apa yang kita pelajari selama ini. “Buat apa belajar teori Phytagoras?”, pertanyaan seperti itu mungkin pernah muncul di benak kita saat mempelajari materi tersebut. Menurut ahli neurosains, manusia memiliki kecenderungan untuk menyimpan hal-hal penting dan berkesan saja di dalam ingatannya karena manusia memiliki ingatan atau memori yang terbatas. Dengan demikian, sekolah, terutama guru, seyogyanya mengajarkan inti dari suatu materi kepada para muridnya dan hanya mengajarkan materi yang dapat menjadi bekal bagi mereka dalam menghadapi kehidupan kelak. Selain itu, pihak sekolah harus memahami prinsip bahwa setiap anak berbeda, sehingga menyamaratakan materi pelajaran dan metode pengajaran dapat menghambat potensinya.
Saat akhir tahun ajaran merupakan saat yang mendebarkan bagi banyak murid karena mereka akan menerima raport, apakah mendapatkan peringkat yang baik atau buruk. Ketika mereka mendapatkan peringkat yang baik, mereka mendapatkan hadiah dan menjadi kebanggaan bagi guru, teman-teman, dan orang tua mereka. Di sisi lain, mereka yang mendapatkan peringkat yang buruk akan mendapatkan komentar pedas dari orang tua mereka dan kemudian diminta untuk mengambil kelas tambahan atau pun les privat. Penilaian seperti ini berbahaya bagi psikologis anak, karena penilaian tersebut bersifat subjektif dan dapat membentuk persepsi diri yang rendah. Pembelajaran bukan hanya sekedar nilai atau peringkat yang didapat saja, melainkan proses berkesinambungan yang perlu dimaknai secara komprehensif. Pengalaman belajar yang berkesan dapat membentuk persepsi diri yang positif dan meningkatkan prestasi murid.
Minimnya keterlibatan banyak pihak dalam mengembangkan sistem pendidikan Indonesia, ketidakselarasan materi yang dipelajari dengan pemahaman yang dimiliki murid, dan terlalu fokus pada nilai daripada pembelajaran merupakan beberapa miskonsepsi pendidikan yang dapat kita jumpai di masyarakat. Individu atau kelompok terdidik memiliki kewajiban untuk meluruskan miskonsepsi tersebut agar perjuangan untuk mewujudkan cita-cita luhur pendiri bangsa ini dapat terus berlanjut dan dapat terwujud secepatnya.
Wallahu a’lam bishshawaab
*Tulisan ini dibuat dan digunakan sebagai materi diskusi dalam Forum Diskusi Mahasiswa (FODIMA) yang diselenggarakan oleh pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

0 komentar:
Posting Komentar