Memulai menulis itu butuh perjuangan yang sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat
besar…
Bagaimana tidak, untuk mengeluarkan kata-kata dari pikiran
saja rasanya sesulit menyentuh bulan dengan tangan kosong dari bumi (ga mungkin
juga kali yaa hahaha)
Kenapa menulis? Karena gw merasa terlahir untuk memiliki
hubungan baik dengan kata-kata, dengan Bahasa. Saat duduk di bangku Madrasah
Aliyah (MA, setara dengan SMA), gw pernah membuat cerpen saat pelajaran Bahasa
Indonesia. Gw lupa persisnya tentang apa cerpen tersebut, namun yang gw ingat
sampai hari ini adalah pujian dari guru Bahasa Indonesia yang mengatakan bahwa
cerpen yang gw buat itu bagus. Gw pun bahagia karena hasil karya gw diapresiasi
oleh guru gw tersebut. Setelah kejadian itu, gw lupa kapan persisnya, ada lomba
menulis cerpen untuk majalah Hai (atau mungkin gw berinisiatif mengirimkan
cerpen gw ke majalah Hai, maafkan diri ini yang sudah banyak lupa hehe). Gw
mencoba menulis cerpen lagi dan gw kembali lupa apakah cerpen tersebut akhirnya
gw kirim ke redaksi majalah Hai atau tidak (kalau pun memang benar gw kirim,
rasanya cerpen gw tidak dimuat di majalah tersebut karena tidak ada kabar apa
pun tentang cerpen gw).
Menulis cerpen untuk majalah Hai (yang sepertinya tidak
kesampaian) merupakan terakhir kalinya gw menulis cerita. Meski pun demikian, gw
tetap berusaha untuk tetap menulis. Menulis semacam catatan harian pun gw
lakukan sebagai usaha gw untuk tetap menulis. Sebagai seorang remaja pada saat
itu, entah mengapa gw berpikiran bahwa menulis catatan harian alias menulis
diary merupakan kegiatan yang identik dengan anak perempuan. Walhasil, gw pun
menulis catatan harian secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh orang
lain hehe.
Oiya … saat gw mengatakan gw terlahir untuk memiliki
hubungan yang baik dengan Bahasa di paragraf sebelumnya, gw menyimpulkannya
secara reflektif dari kegemaran gw sejak kecil. Mendengarkan musik. Bagi gw,
mendengarkan musik merupakan kegiatan yang menyenangkan. Selain menikmati
alunan aransemen dari alat musik, menikmati rangkaian kata yang menyatu dalam
sebuah alunan lagu merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Saat itu, hingga saat
ini, gw suka mendengarkan lagu-lagu dari Sheila on 7 (THEY ARE LEGEND!!!). Selain mendengarkan musik, gw juga cukup
senang membaca. Kegemaran membaca gw dimulai saat duduk di bangku Madrasah
Ibtidaiyyah (MI, setara dengan SD). Saat itu, gw sering membeli tabloid Fantasi karena tabloid tersebut membahas
hal-hal yang popular saat itu, salah satunya membahas grup band favorit gw,
Sheila on 7. Selain itu, gw juga sering membeli koran yang membahas sepak bola
seperti Soccer, Bola, dan sejenisnya. Berlanjut ke jenjang SMP, gw mulai menggemari
komik. Komik-komik populer pada saat itu seperti Our Field of Dreams, Captain
Tsubasa, Slam Dunk, Flame of Recca, One Piece, Naruto, dan
sejenis sempat gw baca. Beranjak ke jenjang SMA, kegiatan membaca gw mulai naik
level. Frekuensi baca komik mulai berkurang, namun gw mulai membaca novel,
buku-buku motivasi, hingga buku-buku yang cukup berat seperti “Ayat-Ayat Semesta” karya Agus Purwanto (kalua
enggak salah beliau adalah seorang fisikawan asal Indonesia yang pernah belajar
di Jepang). Berkat buku bacaan yang mulai berubah tingkatannya, pemikiran gw
pun mulai berkembang sedikit demi sedikit agak berbeda dari remaja pada umumnya
saat itu.
Saat di bangku kuliah, gw mulai nge-blog dan isinya berisi tentang beberapa pengalaman dan pemikiran gw
waktu itu. Biar blog gw ga terlalu sepi, gw memasukkan beberapa tulisan dari situs
berita seperti Republika Online dan Kompas.com dan pastinya gw mencantumkan
sumbernya agar terhindar dari plagiarisme. Nge-blog pun enggak bertahan lama. Harus gw akui, penyakit inkonsistensi
masih menjangkiti diri gw hingga sehingga blog tersebut bias dibilang
terbengkalai meskipun beberapa kali mencoba untuk mengisinya dengan beberapa
tulisan gw.
Ketika mendapatkan kesempatan untuk memperdalam ilmu
Psikologi di jenjang magister, gw baru tau kalua menulis merupakan salah satu
terapi yang dapat digunakan untuk mengetahui kepribadian atau karakter
seseorang. Setelah mengetahui hal tersebut pun gw enggak langsung mulai lagi nulis karena gw belum sepenuhnya
menyadari kalau menulis bisa menjadi media
buat gw untuk mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang terlintas dan saat itu gw
belum punya kesempatan untuk “benar-benar” menekuninya. Jadi, gw memutuskan
untuk mulai nge-blog lagi dengan
harapan gw bisa berbagi pemikiran gw dengan orang lain, enggak cuma gw simpan
di kepala. Bismillah…semoga gw bisa konsisten menulis dan berbagi pemikiran melalui
blog ini 😊
Amiiiiiiiin

0 komentar:
Posting Komentar