Senin, 15 Oktober 2018

Lika-Liku Tulis Menulis


Memulai menulis itu butuh perjuangan yang sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat besar…

Bagaimana tidak, untuk mengeluarkan kata-kata dari pikiran saja rasanya sesulit menyentuh bulan dengan tangan kosong dari bumi (ga mungkin juga kali yaa hahaha)
Kenapa menulis? Karena gw merasa terlahir untuk memiliki hubungan baik dengan kata-kata, dengan Bahasa. Saat duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA, setara dengan SMA), gw pernah membuat cerpen saat pelajaran Bahasa Indonesia. Gw lupa persisnya tentang apa cerpen tersebut, namun yang gw ingat sampai hari ini adalah pujian dari guru Bahasa Indonesia yang mengatakan bahwa cerpen yang gw buat itu bagus. Gw pun bahagia karena hasil karya gw diapresiasi oleh guru gw tersebut. Setelah kejadian itu, gw lupa kapan persisnya, ada lomba menulis cerpen untuk majalah Hai (atau mungkin gw berinisiatif mengirimkan cerpen gw ke majalah Hai, maafkan diri ini yang sudah banyak lupa hehe). Gw mencoba menulis cerpen lagi dan gw kembali lupa apakah cerpen tersebut akhirnya gw kirim ke redaksi majalah Hai atau tidak (kalau pun memang benar gw kirim, rasanya cerpen gw tidak dimuat di majalah tersebut karena tidak ada kabar apa pun tentang cerpen gw).


Menulis cerpen untuk majalah Hai (yang sepertinya tidak kesampaian) merupakan terakhir kalinya gw menulis cerita. Meski pun demikian, gw tetap berusaha untuk tetap menulis. Menulis semacam catatan harian pun gw lakukan sebagai usaha gw untuk tetap menulis. Sebagai seorang remaja pada saat itu, entah mengapa gw berpikiran bahwa menulis catatan harian alias menulis diary merupakan kegiatan yang identik dengan anak perempuan. Walhasil, gw pun menulis catatan harian secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh orang lain hehe.

Oiya … saat gw mengatakan gw terlahir untuk memiliki hubungan yang baik dengan Bahasa di paragraf sebelumnya, gw menyimpulkannya secara reflektif dari kegemaran gw sejak kecil. Mendengarkan musik. Bagi gw, mendengarkan musik merupakan kegiatan yang menyenangkan. Selain menikmati alunan aransemen dari alat musik, menikmati rangkaian kata yang menyatu dalam sebuah alunan lagu merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Saat itu, hingga saat ini, gw suka mendengarkan lagu-lagu dari Sheila on 7 (THEY ARE LEGEND!!!). Selain mendengarkan musik, gw juga cukup senang membaca. Kegemaran membaca gw dimulai saat duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyyah (MI, setara dengan SD). Saat itu, gw sering membeli tabloid Fantasi karena tabloid tersebut membahas hal-hal yang popular saat itu, salah satunya membahas grup band favorit gw, Sheila on 7. Selain itu, gw juga sering membeli koran yang membahas sepak bola seperti Soccer, Bola, dan sejenisnya. Berlanjut ke jenjang SMP, gw mulai menggemari komik. Komik-komik populer pada saat itu seperti Our Field of Dreams, Captain Tsubasa, Slam Dunk, Flame of Recca, One Piece, Naruto, dan sejenis sempat gw baca. Beranjak ke jenjang SMA, kegiatan membaca gw mulai naik level. Frekuensi baca komik mulai berkurang, namun gw mulai membaca novel, buku-buku motivasi, hingga buku-buku yang cukup berat seperti “Ayat-Ayat Semesta” karya Agus Purwanto (kalua enggak salah beliau adalah seorang fisikawan asal Indonesia yang pernah belajar di Jepang). Berkat buku bacaan yang mulai berubah tingkatannya, pemikiran gw pun mulai berkembang sedikit demi sedikit agak berbeda dari remaja pada umumnya saat itu.

Saat di bangku kuliah, gw mulai nge-blog dan isinya berisi tentang beberapa pengalaman dan pemikiran gw waktu itu. Biar blog gw ga terlalu sepi, gw memasukkan beberapa tulisan dari situs berita seperti Republika Online dan Kompas.com dan pastinya gw mencantumkan sumbernya agar terhindar dari plagiarisme. Nge-blog pun enggak bertahan lama. Harus gw akui, penyakit inkonsistensi masih menjangkiti diri gw hingga sehingga blog tersebut bias dibilang terbengkalai meskipun beberapa kali mencoba untuk mengisinya dengan beberapa tulisan gw.
Ketika mendapatkan kesempatan untuk memperdalam ilmu Psikologi di jenjang magister, gw baru tau kalua menulis merupakan salah satu terapi yang dapat digunakan untuk mengetahui kepribadian atau karakter seseorang. Setelah mengetahui hal tersebut pun gw enggak langsung mulai lagi nulis karena gw belum sepenuhnya menyadari kalau menulis bisa menjadi media buat gw untuk mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang terlintas dan saat itu gw belum punya kesempatan untuk “benar-benar” menekuninya. Jadi, gw memutuskan untuk mulai nge-blog lagi dengan harapan gw bisa berbagi pemikiran gw dengan orang lain, enggak cuma gw simpan di kepala. Bismillah…semoga gw bisa konsisten menulis dan berbagi pemikiran melalui blog ini 😊

Amiiiiiiiin  

0 komentar:

Posting Komentar

 
;